AutocarWiki.com – Menerka Sebab Penjualan Hyundai Stargazer Lesu – LMPV pendatang baru dari Hyundai, yakni Stargazer digadang-gadang akan menjadi Bintang Baru mobil keluarga di Indonesia. MPV yang disebut dirancang berdasarkan riset pasar Indonesia itu hadir dengan desain sangat berbeda dan fitur-fitur canggih.
Diharapkan jagoan Hyundai ini akan menjadi pesaing yang tangguh di segmen LMPV, untuk secara signifikan mengeruk angka penjualan yang selevel dengan Mitsubishi Xpander, Toyota Avanza dan Suzuki Ertiga.
Di awal peluncurannya, angka penjualannya wholesale Stargazer cukup memberi harapan bahwa ia akan menjadi salah satu LMPV yang laris di Indonesia. 2.839 unit Stargazer dikirim ke diler resmi Hyundai sepanjang bulan September 2022.
Namun angka itu tidak meningkat di bulan-bulan selanjutnya. Bahkan di November 2022, Gaikindo mencatat penurunan signifikan hingga hanya 824 unit dikirim ke diler di seluruh Indonesia. Artinya arus penjualan di level ritel tidak selancar ekspektasi.
Berbeda dari pesaingnya yang sudah lebih lama eksis. Di bulan November 2022, Xpander misalnya terkirim sebanyak 1.366 unit, Xenia sebanyak 2.285 unit, Veloz hingga 3.717 unit, dan Avanza yang terlaris sebanyak 3.833 unit.

Mengapa Penjualan Hyundai Stargazer Lesu?
Lalu apakah gerangan yang menyebabkan Hyundai Stargazer kurang diminati konsumen LMPV di Indonesia?
Apakah Hyundai telah salah dalam metode risetnya? Sehingga teknologi canggih pada Stargazer tidak berhasil menarik minat konsumen.
Tentu terlalu dini untuk menyimpulkan, karena kehadiran Stargazer belum sampai setahun. Tapi jika merujuk pada Xpander yang fenomenal pada awal kehadirannya, maka Stargazer seperti layu sebelum berkembang.
Hingga kini Xpander tetap banyak dipuji oleh pengguna, para jurnalis dan reviewer otomotif. Khususnya dalam hal desain eksterior, kualitas dan kenyamanan interior, serta rasa berkendara yang menyenangkan.
Berbeda dari Stargazer yang dari awal kehadirannya lebih banyak mendapat kritikan dari para reviewer dan jurnalis otomotif. Khususnya dalam hal desain eksterior yang nyeleneh, plastik interior yang massif dan rem tangan tuas manual yang di era sekarang sudah dianggap ketinggalan.
Hal-hal yang Berpotensi Membuat Konsumen Kurang Sreg
Kami pernah menulis artikel mengenai hal-hal yang berkemungkinan besar membuat konsumen jadi kurang berminat membeli Stargazer, pada artikel ini: Hal yang Berpotensi Bikin Stargazer Kurang Diminati.
Dari beberapa daftar tersebut, hal-hal yang menurut kami paling berpengaruh pada kurangnya minat konsumen pada Stargazer antara lain adalah:
Faktor desain eksterior yang sangat MPV – Bahasa desain ini sudah mulai kurang diminati karena konsumen yang berumur 35 – 45 tahun lebih cenderung suka mobil yang bernunsa SUV atau Crossover.
Nuansa Interior yang kental plastik keras – Ini memberi kesan kurang mewah dan seperti kembali ke era tahun 2000-an. Plastik keras besar yang cheaplook di atas dashboard kokpit pengemudi sangat mengganggu pemandangan dan memudarkan selera kebanyakan orang.

Desain eksterior bagian belakang yang aneh – Memberi kesan kurang sedap dipandang. Padahal pandangan mata pada bentuk eksterior adalah faktor yang paling membuat konsumen bangga memiliki mobilnya.
Rem parkir tuas manual – Itu mungkin terkesan sepele, karena Xpander juga demikian pada awal kehadirannya, bahkan hingga kini masih memiliki varian dengan tuas rem tangan. Tapi Xpander hadir di era dimana fitur Electric Parking Brake with Auto-hold (EPB+AH) belum begitu dikenal di mobil LMPV.
Di era sekarang, fitur itu telah dikenal secara signifikan memberi kenyamanan bagi pengemudi. Khususnya di kemacetan perkotaan atau jalanan menanjak. EPB+AH jauh lebih praktis dan memudahkan pengemudi, sehingga mobil dengan fitur tersebut berkesan lebih canggih dan nyaman.
Faktor fungsionalitas masih Lebih Dominan dibanding Teknologi ADAS dan Konektifitas – Jika kita bertanya pada kebanyakan konsumen di era ini, maka kebanyakan mereka akan menganggap bahwa fitur-fitur ADAS dan konektifitas internet bukanlah kebutuhan primer dari sebuah mobil.
Kenyamanan, konsumsi BBM yang irit, kabin yang lapang, desain yang gagah dan kualitas bahan interior masih lebih menjadi prioritas. Itulah mengapa Xpander tetap lebih diminati.
Disclaimer: Hal-hal di atas merupakan opini pribadi kami dan bukan merupakan pengungkapan berlandaskan hasil studi ilmiah. Jadi bisa saja berbeda dengan pendapat pegiat otomotif lainnya.






Coba ambil desain kona yang baru